Metroikn, Balikpapan – Majalah ekonomi dan politik ternama dunia The Economist kembali menyoroti Indonesia. Dalam artikel terbarunya bertajuk “Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy” yang terbit pada 14 Mei 2026, media asal Inggris tersebut melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Jika diterjemahkan, judul tersebut berarti “Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi.” Bahkan dalam subjudul artikelnya, The Economist menyebut Prabowo sebagai sosok yang “terlalu boros dan terlalu otoriter” (too spendthrift and too authoritarian).
Media tersebut menyoroti sekitar 1,5 tahun awal masa pemerintahan Prabowo yang dinilai mulai memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan kualitas demokrasi Indonesia. The Economist menggambarkan gaya kepemimpinan Prabowo sebagai figur penuh kontradiksi.
Di satu sisi, Prabowo disebut pernah menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik publik. Dalam artikel itu, ia dikutip pernah mengatakan bahwa kritik merupakan hal yang baik dan dirinya tidak merasa sebagai sosok otoriter. Namun di sisi lain, The Economist juga menyinggung pernyataan Prabowo yang pernah menuduh adanya kekuatan asing mendanai LSM untuk memecah belah Indonesia atas nama demokrasi dan hak asasi manusia.
Sorotan utama artikel tersebut tertuju pada kebijakan fiskal pemerintah, khususnya program makan bergizi gratis yang ditargetkan menjangkau sekitar 80 juta anak Indonesia. Program itu dinilai memiliki tujuan sosial yang besar, namun dianggap berpotensi membebani keuangan negara dalam jangka panjang.
The Economist mencatat defisit anggaran Indonesia pada 2025 disebut meningkat hingga 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati batas 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah. Di saat bersamaan, penerimaan pajak disebut melemah, sementara nilai tukar rupiah dan pasar saham Indonesia ikut mengalami tekanan.
Media tersebut menilai kombinasi pengeluaran negara yang besar, gaya kepemimpinan populis, serta kekuasaan politik yang semakin terpusat dapat memengaruhi kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Kekhawatiran itu dinilai berpotensi berdampak langsung pada masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga melambatnya pertumbuhan lapangan kerja.
Meski demikian, pemerintah Indonesia sebelumnya telah menegaskan bahwa program-program prioritas seperti makan bergizi gratis merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka stunting nasional.
Artikel The Economist ini kini menjadi perhatian luas karena tidak hanya mengkritik kondisi ekonomi, tetapi juga menyoroti arah demokrasi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo. Sejumlah pengamat menilai sorotan media internasional semacam ini dapat memengaruhi persepsi investor global terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.












