Fatalitas DBD di Kaltim Turun, Dinkes Tekankan Pencegahan Tetap Jadi Tantangan Utama

METROPOLIS99 Dilihat

Metroikn, Samarinda – Di tengah masih tingginya jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD), Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mencatat capaian positif pada aspek pengendalian kematian pasien. Hingga periode Januari–Mei 2026, tingkat fatalitas DBD berhasil ditekan jauh di bawah target yang ditetapkan dalam rencana strategis daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menyebut tingkat kematian akibat DBD saat ini berada pada angka 0,13 persen atau lebih rendah dibanding batas maksimal target sebesar 0,4 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penanganan medis, sistem deteksi kasus, serta intervensi kesehatan yang dilakukan di fasilitas layanan kesehatan mampu mencegah pasien masuk ke fase kritis.

“Angka fatalitas ini sangat minim jika dibandingkan jumlah kasus yang ada, sehingga capaian kita terbukti berada pada zona kendali,” ujar Jaya.

Meski demikian, Dinkes Kaltim menilai tantangan pengendalian DBD belum sepenuhnya selesai. Rendahnya angka kematian belum berbanding lurus dengan kondisi lingkungan yang masih berisiko memicu penyebaran kasus baru.

Berdasarkan catatan Dinkes, sepanjang awal tahun 2026 jumlah kasus DBD di Kaltim mencapai 1.530 kasus dengan dua kasus kematian yang terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu dan Kota Bontang.

Jaya menjelaskan, sejumlah intervensi terus dijalankan untuk menekan dampak penyakit tersebut, mulai dari pemberian vaksinasi DBD, penerapan teknologi pengendalian nyamuk Wolbachia yang mulai diterapkan di Bontang, hingga penguatan edukasi masyarakat mengenai pencegahan sarang nyamuk.

Namun demikian, indikator lingkungan masih menjadi perhatian karena angka bebas jentik di Kaltim baru mencapai 83,55 persen dan masih masuk kategori berisiko.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan layanan pengobatan, tetapi harus diperkuat melalui langkah pencegahan di tingkat rumah tangga dan lingkungan.

Sementara itu, distribusi kasus tertinggi masih terkonsentrasi di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Kota Balikpapan tercatat menjadi wilayah dengan kasus terbanyak sebanyak 327 kasus, disusul Samarinda 246 kasus dan Kabupaten Kutai Kartanegara 241 kasus.

Karena itu, Dinkes Kaltim kembali mendorong masyarakat memperkuat gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin melalui pola 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Kewaspadaan bersama sangat dibutuhkan sebagai pelindung utama guna memastikan masyarakat tetap terlindungi dari ancaman DBD,” tutup Jaya.