Asap Karhutla Terdeteksi Sampai Jakarta, BMKG Ungkap Pergerakannya

NASIONAL28 Dilihat

Metroikn, Jakarta – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan terdeteksi mencapai atmosfer Jakarta, Banten, hingga Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau pergerakannya melalui citra satelit dan analisis meteorologi.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan indikasi sebaran asap telah mencapai wilayah Jawa bagian barat.

“BMKG memantau sebaran asap menggunakan citra satelit dan analisis meteorologi. Berdasarkan pantauan terbaru, terdapat indikasi sebaran asap karhutla yang telah mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada lapisan atmosfer,” kata Guswanto, dikutip dari detikNews, Jumat (16/10/2026).

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada Jumat (16/10/2026) pukul 08.00 WIB, indikasi sebaran asap terdeteksi di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Belum Dipastikan Berdampak Langsung ke Permukaan

Meski asap terdeteksi di atmosfer Jakarta dan sekitarnya, kondisi tersebut tidak otomatis berarti asap telah mencapai permukaan tanah dalam konsentrasi yang membahayakan kesehatan.

BMKG masih memerlukan pemantauan lanjutan untuk memastikan apakah sebaran tersebut berdampak pada kualitas udara yang dihirup masyarakat.

Guswanto menjelaskan bahwa citra satelit menunjukkan keberadaan asap di atmosfer, tetapi tidak secara langsung menggambarkan konsentrasi polutan di permukaan.

“Namun BMKG juga menegaskan bahwa perlu pemantauan lanjutan untuk mengetahui apakah konsentrasinya sudah signifikan di permukaan dan seberapa besar dampaknya terhadap kualitas udara,” jelas Guswanto, dikutip dari detikNews.

Karena itu, penilaian risiko kesehatan perlu mengacu pada data kualitas udara setempat, termasuk konsentrasi partikulat halus PM2.5, bukan hanya keberadaan asap dalam citra satelit.

Asap Meluas di Sejumlah Wilayah

Deteksi asap di Jakarta terjadi ketika sebaran asap karhutla masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam laporan detikHealth pada Rabu (14/10/2026), BMKG mendeteksi sebaran asap di berbagai wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Sejumlah pergerakan asap lintas batas negara juga terpantau, termasuk dari Kalimantan menuju Sarawak, Malaysia, serta Semenanjung Malaysia dan Singapura.

Bagi masyarakat, perkembangan tersebut menjadi alasan untuk terus memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Namun, penilaian risiko kesehatan perlu didasarkan pada data kualitas udara setempat, bukan semata-mata keberadaan asap dalam citra satelit.

BMKG sendiri masih memantau dinamika atmosfer dan pergerakan asap untuk memastikan perkembangannya. Sementara itu, dampak langsung terhadap kualitas udara di permukaan Jakarta dan wilayah sekitarnya perlu dinilai berdasarkan hasil pengukuran lanjutan.