Udara Balikpapan Kembali Tak Sehat, DLH Ungkap Tren Asap Makin Mengkhawatirkan

METROPOLIS48 Dilihat

Metroikn, Balikpapan – Kualitas udara di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, kembali memburuk setelah sempat membaik usai hujan pada Minggu (18/10/2026). Dalam beberapa hari terakhir, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) kembali menunjukkan tren kenaikan, bahkan angka pemantauan yang semula tinggi pada pagi hari belakangan dapat meningkat lagi menjelang sore.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan, kondisi kualitas udara sempat berada pada kategori sedang sejak Minggu lalu. Namun, dalam tiga hingga empat hari terakhir, tren pemantauan justru kembali meningkat.

“Untuk kondisi ISPU, kualitas udara kita memang dalam beberapa hari ini cenderung bisa dikatakan sedang. Itu mulai dari hari Minggu kemarin. Tapi dalam minggu terakhir ini, kurang lebih tiga sampai empat hari, trennya malah naik,” kata Sudirman saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).

Menurut Sudirman, perubahan kualitas udara tersebut terpantau melalui dua alat pemantau yang terpasang di Kantor DLH dan kawasan Balikpapan Baru. Kedua perangkat itu merupakan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang bekerja memantau kualitas udara selama 24 jam.

Ia mencontohkan, angka pemantauan yang sebelumnya berada di kisaran 103 hingga 106 pada pagi hari, dalam beberapa hari terakhir dapat meningkat menjadi 114 pada sore hari.

“Kadang pagi tinggi, siang sudah rendah, sudah turun kualitas udaranya. Tapi beberapa hari ini malah peningkatan. Tadinya pagi misalnya 103, 106, sore itu malah bisa jadi 114,” ujarnya.

Sudirman menjelaskan, angka ISPU di atas 100 masuk kategori tidak sehat. Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau lebih waspada terhadap paparan polusi udara, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

“Masyarakat diharapkan menggunakan masker karena ISPU-nya cenderung tidak sehat,” katanya.

Sempat Turun Setelah Hujan, Kini Naik Lagi

Kenaikan kualitas pencemar udara itu juga memengaruhi langkah pemerintah dalam mengantisipasi dampak asap terhadap masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.

Sudirman menyebut, pemerintah sebelumnya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan terkait penyesuaian kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diterapkan mulai Kamis (22/10/2026), setelah kualitas udara kembali memburuk.

Pekan sebelumnya, pembelajaran jarak jauh juga sempat diberlakukan selama tiga hari, pada 13 hingga 16 Oktober. Kondisi udara kemudian membaik setelah hujan turun pada Sabtu, sehingga kegiatan belajar anak usia TK hingga SMP tidak lagi dilakukan secara daring pada awal pekan ini.

Namun, menurut Sudirman, kualitas udara kembali memburuk setelah kenaikan terpantau pada Minggu.

“Sabtu itu kan ada hujan, makanya turun bagus. Tapi hari Minggunya naik lagi,” ujarnya.

Arah Angin Ikut Memengaruhi Sebaran Asap

Selain perubahan cuaca, Sudirman menyebut arah dan hembusan angin turut memengaruhi kondisi asap yang menyelimuti Balikpapan. Perubahan pergerakan angin dapat memengaruhi sebaran asap dan kondisi kualitas udara yang terpantau di kota Balikpapan.

Karena itu, DLH terus mengandalkan pemantauan AQMS selama 24 jam untuk melihat perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu.

Kondisi tersebut membuat pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat angka ISPU dapat berubah dalam rentang waktu sehari. Masyarakat pun diimbau memperhatikan kondisi udara dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.