Stereotip hanya orang kaya dan punya banyak uang untuk bisa jadi anggota dewan itu runtuh di tangan sosok Rahmat Dermawan.
metroikn, KUTAI KARTANEGARA – Rahmat Dermawan merupakan pendatang baru di panggung politik Kota Raja. Pemuda asal Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar) itu menjadi satu di antara debutan lain yang dipastikan berhasil duduk di kursi parlemen DPRD Kukar periode 2024-2029. Melalui Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024, nama Rahmat Dermawan berhasil memberikan kontribusi besar atas kemenangan telak PDI Perjuangan di Kukar.
Meski nanti tergolong junior sebagai anggota dewan, namun Rahmat Dermawan merupakan sosok senior di kancah perpolitikan Kukar. Itu terbukti saat bertarung di daerah pemilihan (dapil) 4, yakni Samboja, Muara Jawa dan Sanga-sanga, Rahmat berhasil meraup 7.920 suara.
Walau tergolong baru, namun Rahmat punya segudang pengalaman, terutama dalam hal pengawasan, maupun fungsi legislasi lainnya. Ini yang membuat Rahmat akan langsung on the track dalam menjalankan perannya sebagai wakil rakyat. Keberhasilan Rahmat lolos menjadi anggota dewan, sekaligus memutus stereotip, tentang “hanya orang kaya dan banyak uang, yang bisa lolos jadi anggota dewan”.
“Saya datang dari keluarga petani. Terjun ke dunia politik untuk mewakafkan diri saya kepada masyarakat kecil, baik dari kalangan petani, nelayan, buruh, pelaku UMKM, pedagang dan kalangan lainnya,” ungkap Rahmat.
Rahmat sadar jalannya tak akan mudah, Ia bertarung, berhadapan dengan petahana, anak pejabat, pengusaha hingga politisi senior. Namun, Ia yakin dapat memenangkan hati rakyat, dan inilah yang terjadi. Dirinya meyakini, “suara rakyat adalah suara Tuhan”, suara yang tak bisa dibeli, tapi bisa didapatkan dengan kepercayaan.
Karena itu dia lebih aktif dalam banyak kegiatan masyarakat, termasuk melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk mendapatkan hak-haknya dari pemerintah. Ini menjadi salah satu kunci keberhasilan Rahmat melenggang ke parlemen. Selain itu, kampanye cerdas juga menjadi senjata Rahmat mendulang suara.
“Karena itu ide saya dalam menggagas dialog terbuka bertajuk “Sekakmat” terbilang sukses menarik simpati masyarakat dari berbagai kalangan. Sebagai pemuda, tentu kita harus jeli memanfaatkan media sosial. Karena harus disadari, jangkauan media sosial, membuat visi misi kita bisa sampai ke masyarakat luas,” jelasnya.
Rahmat berkomitmen untuk terus dekat bersama masyarakat, hal ini pun langsung dibuktikannya pasca beberapa hari pencoblosan suara. Dirinya langsung kembali ke masyarakat. Ia turut serta dalam penyaluran bantuan air bersih di Kecamatan Sanga-sanga.
Perjalanan Hidup hingga Menuju Kursi Dewan
Rahmat menceritakan runtut kehidupannya hingga menjadi anggota DPRD Kukar. Rahmat membuka cerita saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ia kerap diremehkan sebelah mata. Ayah dan ibunya hanyalah seorang petani dan pedagang yang berjualan di salah satu pasar tradisional di Kecamatan Samboja.
“Saya sering disepelekan. Orangtua saya tidak tamat SD, tapi punya keyakinan bahwa nasib keluarga akan berubah ketika anaknya diwarisi pendidikan yang baik,” katanya.
Rahmat merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ia lahir di Samboja pada 1991. Pemuda pesisir tersebut sempat mengenyam pendidikan di SD 004 Samboja, MTS Al Jihad Samboja, MAN Nuruddin Samboja, hingga berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Mulawarman. Kata Rahmat, kakak dan adiknya wajib merasakan pendidikan sampai bangku perguruan tinggi. Namun, hanya dirinya yang melanjutkan studi untuk menyandang gelar Magister di Samarinda.
“Saya hanya ingin mengangkat derajat orangtua, Meskipun harus berjuang tinggal di musala selama 1,5 tahun untuk menempuh S2, tapi itu adalah perjuangan saya,” terangnya.
Semasa berkuliah, Rahmat Dermawan aktif berorganisasi di dalam atau internal kampus. Kala itu, ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisipol Universitas Mulawarman. Tak hanya itu, Rahmat juga merupakan penggerak organisasi kedaerahan Himpunan Mahasiswa Samboja. Pada 2016, ia juga mendirikan organisasi volunteer Rumah Inspirasi Kaltim dan organisasi ilmiah Distrik13 (diskusi tim dan riset) di Samboja.
“Selesai kuliah saya pulang kampung, mengaplikasikan banyak hal. Tapi memang terbatas, ketika jauh dari pusat ibukota provinsi, pembangunan di kampung sangat tertinggal,” ucap Rahmat.
“Masyarakat hanya menjadi objek ketika pemilu. Ini yang menampik saya, bahwa kampung harus punya gebrakan mengambil anggaran untuk pembangunan. Oleh karena itu saya putuskan untuk merantau lagi,” sambungnya.
Singkat cerita, pada 2019 Rahmat bertemu dengan politikus Samboja, Muhammad Samsun. Di situ ia duduk berdialog dan memiliki pandangan yang sama terkait pembangunan daerah. Ia pun diberikan amanah menjadi Tenaga Ahli DPRD Kalimantan Timur. Rahmat pun mendapat kebebasan untuk menyerap banyak keluhan masyarakat di berbagai bidang seprti pertanian, perikanan, dan infrastruktur di desa-desa, termasuk transmigran jawa.
Hal tersebut akhirnya memantik Rahmat untuk memfasilitasi petani dan nelayan membuat proposal. Tidak jarang, proposal tersebut bertumpuk hingga berdus-dus di rumahnya.
“Saya keliling Kukar membuat proposal untuk petani, nelayan, dan masyarakat desa. Petani sulit pupuk, jalan desa putus, pembangunan yang tertinggal. Ini terus saya dorong, usulan itu harus direalisasikan,” terangnya.
Sebagai orang yang akan bertarung di kontestasi pemilihan legislatif 2024, Rahmat Dermawan justru makin sibuk bertemu masyarakat. Menurutnya, untuk mendapat legitimasi menjadi wakil rakyat, para politisi harus lebih dulu menjadi bagian dari mereka.
Kata dia, turun ke masyarakat menjadi bagian dalam proses perjalanan hidup Rahmat Dermawan, bukan hanya pencitraan menjelang pemilu. Menurutnya, Pemilu 2024 merupakan momentum pembuktian bahwa selama ini masyarakat merasa terfasilitasi atau tidak dengan keberadaan dirinya.