metroikn, Balikpapan – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kaltim Syafruddin optimistis mesin politik yang tergabung dalam tim pemenangan, kader hingga relawan di Kaltim mampu mendulang 75 persen suara bagi bakal pasangan calon Presiden-Wakil Presiden, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN).
Syafruddin, dalam kesempatan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PKB Kaltim di Balikpapan menyatakan, kolaborasi PKB, PKS dan Nasdem dalam barisan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), tentu menjadi modal penting untuk memenangkan AMIN pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Wajar saja, mengingat tiga partai tersebut berhasil meraup 400 ribu pemilih Kaltim pada kontestasi legislatif yang lalu. Itu belum lagi ditambah dengan keberadaan relawan serta aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Kaltim yang jumlahnya mencapai 50 ribu orang.
“Inilah modal kita untuk memastikan pasangan AMIN di Kaltim menang 75 persen,” seru Syafruddin, Sabtu (30/9/2023).
Lanjut Ia mengatakan, Rakorwil PKB Kaltim kali ini merupakan momentum besar untuk menyatukan langkah perjuangan tersebut.
Sebagai informasi, Rakorwil PKB Kaltim di Balikpapan membahas strategi partai dalam upaya pemenangan Pilpres dan Pileg 2024.
“Lonceng perjuangan dan pergerakan telah dinyalakan. Tidak ada kata lain, kita harus siap memenangkan pasangan Anies-Muhaimin (AMIN),” tegasnya.
Rakorwil turut dihadiri Ketua Umum PKB sekaligus bakal calon wakil presiden (bacawapres) usungan KPP, Abdul Muhaimin Iskandar.
Dalam orasi politiknya, Muhaimin menyinggung bahwa perolehan kursi, kemenangan PKB bahkan kemenangan Anies-Muhaimin sekadar target-target dalam rangkaian pemilu 2024.
Terpenting menurutnya, bagaimana mewujudkan nasib bangsa menjadi lebih baik ke depan.
“Kita ingin tidak lain adalah perubahan nasib rakyat Indonesia. Saatnya kita mengubah seluruh keterbatasan, ketidakberdayaan menjadi kokoh dan berdaulat,” ujar Gus Imin.
Ia menambahkan, perlunya mengubah cara kerja pembangunan pertanian di Indonesia demi mencapai kemandirian pangan. Strateginya, kata dia, hijrah dari ketergantungan impor kepada terobosan yang efektif.
Pemerintah harus turun tangan memprioritaskan upaya tersebut. Indonesia harus mandiri dan kuat dalam produksi pangan.
“Kita bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, kita juga harus menopang pangan dunia. Inilah yang disebut hijrah dari keterpurukan,” jelasnya.
Begitu pula mengenai kelebihan Indonesia dalam hal sumber daya alam (SDA). Ia menyangkan hal tersebut sampai saat ini belum memberi dampak signifikan terhadap kesetaraan pembangunan.
Untuk itu, perlu mewujudkan keadilan dalam pemanfaatan dan pengelolaan SDA ini. Seperti halnya Kaltim yang selama ini dikenal berkontribusi besar pada negara melalui SDA-nya, tapi belum merasakan imbal balik yang setara.
“Jangan sampai Kalimantan Timur, sumber energinya batubara, malah kesulitan listrik dan penerangan. Tidak boleh terjadi,” tegasnya.
(yap/*)