metroikn, Balikpapan – Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota Balikpapan diakui mengalami peningkatan dalam kurun waktu hampir satu bulan terakhir.
Per Rabu, 24 Januari 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mencatat, sebanyak 28 pasien terkonfirmasi positif DBD. Kepala Dinkes, Andi Sri Juliarty, memastikan seluruh pasien terkonfirmasi telah tertangani dengan baik sampai saat ini.
“Kasusnya naik, tutup tahun 2023 kemarin kita sebanyak 2.195 kasus,” katanya.
Sederet kasus terkonfirmasi DBD, menurutnya masih didominasi menjangkit anak berusia antara 5 hingga 14 tahun dengan sebaran tertinggi di wilayah Balikpapan Utara. Sedangkan Balikpapan Tengah menempati rangking dua kasus anak terkonfirmasi DBD terbanyak.
“Sejak tiga tahun lalu, tren DBD di Balikpapan itu begeser,” sambung Andi.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinkes kota Balikpapan melakukan langkah optimalisasi pemberian vaksin, di samping turut menyosialisasikan upaya pencegahan dan kewaspadaan kepada masyarakat.
Pembagian vaksin gratis ini merupakan terobosan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan. Melihat tren kasus, Dinkes menjadikan kalangan anak-anak sebagai prioritas sasaran vaksinasi DBD di kota Balikpapan.
Sebagai pilot project di Kaltim, kota Balikpapan sejak 2023 lalu mendapat pasokan sebanyak 9.800 dosis.
“Kita harus benar-benar mengkaji supaya tepat sasaran. Kemudian untuk memudahkan pemberian vaksin kita sasar sekolah-sekolah. Sudah berjalan dan saat ini sudah mencapai 60 persen,” urainya.
Foging atau pengasapan saat ini bukan lagi menjadi opsi utama Dinkes sebagai upaya pencegahan maupun penanggulangan DBD.
“Karena foging ini adalah zat kimia juga yang punya dampak negatif (bagi kesehatan) kalau digunakan tidak tepat sasaran,” terangnya.
Sesuai standar operasional prosedur (SOP) penanggulangan, foging bisa saja dilakukan dengan kondisi tertentu. Pertama, kasus terkonfirmasi DBD harus dilaporkan kepada Puskesmas terdekat pada saat itu juga.
Hal ini supaya petugas Puskesmas dapat segera menindaklanjuti laporan dengan langkah penyelidikan epidemologi (PE) untuk mendeteksi sarang nyamuk dalam radius 100 meter dari tempat tinggal pasien terkonfirmasi.
“Kalau tidak ditemukan (sarang nyamuk) berarti klir. Berarti pasien ini mungkin tergigit nyamuk di wilayah lain. Karena mobilitas orang juga mempengaruhi,”
“Maka kita bisa lanjut PE ke sekolahnya. Mungkin dapatnya di sekolah. Kalau di sekolah, berarti sekolahnya yang kita semprot,” lanjut Andi.
Dinkes menekankan pentingnya kerjasama semua elemen masyarakat dalam upaya antisipasi hingga penanggulangan DBD di lingkungan tempat tinggal maupun beraktivitas. Terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dari potensi munculnya sarang nyamuk.