Metroikn, Balikpapan – Aksi penghijauan skala besar digelar Kodam VI/Mulawarman dengan capaian yang tak biasa. Bukan hanya menanam ratusan ribu pohon, kegiatan ini sekaligus memecahkan rekor nasional.
Melalui program Menyatu dengan Alam, Kodam VI/Mulawarman resmi mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) setelah menanam 10.100 pohon ulin secara serentak, jenis pohon endemik bernilai tinggi yang kini semakin langka.
Penanaman ini menjadi bagian dari gerakan penghijauan terintegrasi yang mencakup wilayah luas, mulai dari Balikpapan hingga jajaran Korem di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Total lebih dari 200 ribu tanaman hutan ditanam dalam satu momentum dengan luasan mencapai 144,5 hektare.
Tak hanya itu, Kodam VI/Mulawarman juga telah menyiapkan lebih dari 1,2 juta bibit dari berbagai jenis, mulai dari tanaman kehutanan seperti meranti dan mahoni hingga tanaman cepat tumbuh, estetika, dan MPTS.
Perwakilan MURI, Awang Rahargo, menyebut capaian ini sebagai prestasi superlatif yang layak dicatat dalam sejarah.
“Dalam rangka program penghijauan serentak di wilayah Kodam VI/Mulawarman, Museum Rekor-Dunia Indonesia mencatat sebuah pencapaian prestasi karya dan karsa yang bersifat superlatif, yakni sebagai kegiatan penanaman tanaman hutan terbanyak yang dilaksanakan secara serentak,” ungkapnya.
“Penanaman lebih dari 200 ribu tanaman hutan pada hari ini, termasuk di dalamnya 10.100 pohon ulin sebagai tanaman endemik bernilai tinggi, merupakan sebuah langkah nyata yang tidak hanya monumental tetapi juga berdampak besar bagi pelestarian lingkungan. Ini adalah rekor yang layak dicatat sebagai yang terbanyak di Indonesia,” tambahnya.
Pangdam VI/Mulawarman, Krido Pramono, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni.
“Hari ini kita tidak sekadar menanam pohon, melainkan juga menanam harapan akan kelestarian alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Gerakan ini juga dirangkaikan dengan penanaman 26.980 pohon keras, 14.530 pohon buah, serta pelepasan 4.100 ekor burung dan 20.000 ekor ikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang TNI AD dalam memulihkan lahan kritis, termasuk area pascatambang dan lahan tidak produktif, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di Kalimantan.
“Teruslah menanam, menyatu dengan alam, menebar energi kebaikan. Setiap kebaikan yang ditanam akan kembali memberi manfaat bagi harmoni kehidupan kita,” tutup Pangdam.
Di tengah tekanan terhadap lingkungan, aksi masif ini menjadi sinyal bahwa upaya pemulihan ekosistem harus dilakukan secara besar, serentak, dan berkelanjutan.









