Denyut Baru di Pulau Maratua: Kala SPBUN Pertamina Mengalirkan Harapan untuk Nelayan

METROPOLIS52 Dilihat

Sebuah stasiun bahan bakar sederhana di Pulau Maratua mengubah ritme hidup nelayan, memperpendek jarak antara laut dan kesejahteraan.

metroikn, BERAU – Di ufuk timur Kabupaten Berau, laut biru Maratua memantulkan cahaya mentari yang jatuh di permukaannya seperti serpihan kaca. Di balik pemandangan indah itu, kehidupan nelayan berdenyut dalam ritme yang sederhana. Pagi melaut, sore menambatkan perahu, dan malam menambal jaring yang koyak. Laut bukan sekadar tempat mencari rezeki, tetapi juga halaman depan kehidupan mereka.

Namun, bagi nelayan di pulau terluar ini, gelombang bukan satu-satunya tantangan. Selama bertahun-tahun, bahan bakar menjadi persoalan klasik yang menggerus tenaga dan penghasilan mereka. Harga solar yang dijual pengecer bisa melambung hingga Rp13.000 per liter, membuat ongkos melaut tak sebanding dengan hasil tangkapan.

Kini, di tepi Jalan Poros Kampung Payung-Payung, sebuah bangunan sederhana dengan logo merah Pertamina menjadi titik terang baru. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBUN) No. 68.773.02 resmi beroperasi, membawa perubahan nyata bagi masyarakat pesisir Maratua.

“Dulu susah sekali dapat bahan bakar, mahal dan jauh,” kenang Guntaris, seorang nelayan yang sejak muda menggantungkan hidup pada laut. “Sekarang, sejak ada SPBUN, hidup kami jadi lebih mudah. Biaya melaut bisa dihemat, dan kami bisa melaut lebih sering,” ucap Guntaris. Nada suaranya mengandung lega, seolah beban panjang telah diangkat dari pundaknya.

Harga BBM yang kini hanya Rp6.800 per liter membuat perbedaan besar. Uang yang dulu habis untuk membeli bahan bakar kini bisa digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga, memperbaiki perahu, atau menabung untuk masa depan anak-anak mereka. Lebih dari sekadar fasilitas, SPBUN hadir sebagai simbol keadilan energi di pelosok negeri.

Menurut Edi Mangun, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, kehadiran SPBUN di Maratua merupakan bagian dari komitmen Pertamina memperkuat kemandirian nelayan.

“Ini bukan hanya soal pasokan BBM, tapi juga bagaimana energi bisa menjadi penggerak ekonomi lokal. Kami ingin masyarakat pesisir merasakan manfaat yang sama seperti masyarakat di daratan,” ujarnya.

Namun, perjalanan untuk memastikan energi sampai ke pulau-pulau terluar tidaklah mudah. Distribusi ke Maratua masih harus bergantung pada kapal Self Propelled Oil Barge (SPOB) dari Fuel Terminal Tarakan. Kapal hanya dapat bersandar dua kali sebulan, menunggu saat pasang tinggi — biasanya pada fase bulan baru atau purnama. Dermaga umum yang rusak dan dangkalnya perairan menjadi hambatan tersendiri.

“Distribusi BBM ke Maratua memang penuh tantangan,” jelas Edi. “Kapal kami hanya bisa bersandar saat air laut cukup tinggi. Selain itu, cuaca ekstrem dan gelombang selatan juga kerap memperlambat pengiriman.”

Meski begitu, stok di SPBUN dipastikan aman. Pertamina telah menjadwalkan pengiriman rutin agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. BBM subsidi disalurkan berdasarkan rekomendasi dinas terkait, sementara sektor pariwisata, termasuk sekitar 20 resort dan usaha penyewaan kendaraan. Mendapat pasokan Pertamax dan Dexlite.

Pemilik SPBUN, Ivan, turut merasakan perubahan sosial yang muncul dari kehadiran fasilitas ini. “Sekarang warga tidak perlu lagi menempuh jarak jauh. Harganya lebih terjangkau, pelayanan lebih cepat. SPBUN ini bukan hanya tempat mengisi bahan bakar, tapi tempat bertemu dan berbagi kabar,” katanya sambil tersenyum.

Memang, di antara deretan jeriken dan perahu kayu, SPBUN Maratua kini menjadi ruang sosial baru. Nelayan berkumpul di sana sebelum berangkat melaut, bertukar kabar soal cuaca, hasil tangkapan, hingga bercanda ringan tentang laut yang kadang bersahabat, kadang murka.

Bagi mereka, bahan bakar bukan sekadar solar dalam drum. Ia adalah penggerak harapan, penghubung antara laut dan dapur. Antara kerja keras dan kesejahteraan. Dan di pulau kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota, setiap tetes bahan bakar dari SPBUN adalah simbol kehadiran negara yang diamanahkan kepada Pertamina. (*)