DPRD Samarinda Sidak Proyek Terowongan Sultan Alimuddin, Soroti Longsor dan Tambahan Anggaran

DPRD Samarinda102 Dilihat

metroikn, SAMARINDA – Proyek pembangunan terowongan yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap kembali mendapat sorotan tajam. Komisi III DPRD Kota Samarinda melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pada Senin (14/7/2025), menyoroti langsung titik longsor di sisi inlet serta penggunaan anggaran yang dinilai harus lebih efisien.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menegaskan bahwa sidak ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan legislatif terhadap proyek strategis yang menelan anggaran hingga Rp395 miliar.

“Kami tidak dalam posisi menyalahkan pemerintah kota, tapi pelaksana proyek harus dikoreksi. Mengapa titik-titik rawan longsor tidak teridentifikasi sejak awal? Ini catatan serius,” ujar Deni, Rabu (16/7/2025).

Longsor yang terjadi pada Mei lalu telah memicu kekhawatiran warga terkait keamanan dan kelayakan proyek. Menurut Deni, lemahnya identifikasi risiko geoteknis menjadi kelemahan krusial dalam tahapan perencanaan.

Deni juga menyampaikan bahwa pihaknya meninjau kondisi outlet terowongan di Jalan Kakap. Meski progres pembangunan fisik disebut telah mencapai 98 persen, namun instalasi sistem ventilasi belum optimal. Dari enam blower yang direncanakan, hanya dua unit yang sudah terpasang.

“Ventilasi itu vital untuk keamanan pengguna terowongan. Jangan tunggu nanti baru bertindak,” ucap politisi dari Fraksi Gerindra tersebut.

Selain aspek teknis, Deni turut menyoroti rencana penambahan anggaran Rp39 miliar melalui APBD Perubahan. Ia mendesak agar tambahan dana digunakan secara efisien, akuntabel, dan tepat sasaran, demi menghindari pemborosan yang berulang.

“Kalau sudah ditambah anggaran, maka harus ada jaminan tidak ada lagi kejadian tak terduga. Harus ada transparansi,” tegasnya.

Komisi III DPRD juga meminta agar konsultan perencana proyek dipanggil dalam rapat lanjutan untuk memberikan penjelasan teknis mengenai penyebab longsor dan potensi risiko lanjutan.

“Kami ingin penyebab longsor ini benar-benar jelas. Jangan sampai ada endapan tanah yang luput dari deteksi site engineer,” tutup Deni.

Proyek terowongan ini merupakan salah satu proyek infrastruktur besar Pemkot Samarinda yang diharapkan mampu mengurai kemacetan dan memperlancar konektivitas kawasan. Namun keberhasilannya kini diuji oleh tantangan teknis dan tata kelola anggaran yang menjadi perhatian publik. (adv/metroikn)