Kaltim Siap Gelar EBIFF 2025, Kolaborasi Budaya Dunia dan Kearifan Lokal dalam Satu Panggung

KALTIM27 Dilihat

metroikn, SAMARINDA — Kalimantan Timur kembali bersiap menjadi panggung pertemuan budaya dunia dalam gelaran East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025. Festival tahunan berskala internasional ini akan segera digelar, menjadi ruang perayaan keberagaman budaya dan seni tradisional, sekaligus penggerak sektor ekonomi kreatif lokal.

Dengan tema “Kaltim Lintas Budaya”, EBIFF 2025 diharapkan menjadi ajang pertukaran seni antara seniman lokal dan mancanegara. Delegasi seni dari Korea Selatan, India, dan Polandia dijadwalkan hadir dan tampil bersama seniman-seniman daerah dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Meski jumlah delegasi asing tahun ini mengalami pengurangan karena penyesuaian anggaran, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim, Awang Khalik, memastikan kualitas pertunjukan tetap menjadi prioritas.

“Alhamdulillah, meskipun peserta mancanegara lebih sedikit, mutu tetap kami jaga. Kami bekerja sama dengan SIOP untuk kurasi, agar setiap penampilan benar-benar punya nilai artistik tinggi,” ujarnya, Jumat (13/6/2025).

Festival ini tidak hanya menyuguhkan budaya mancanegara. Karya seni tradisional khas Kaltim seperti tingkilan, madihin, dan tarsul juga akan ditampilkan dalam bentuk yang lebih segar dan relevan dengan generasi muda saat ini. Menurut Awang, ini adalah strategi untuk menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap seni daerah yang mulai jarang ditampilkan.

Selain panggung pertunjukan, EBIFF 2025 juga diramaikan dengan pameran ekonomi kreatif yang melibatkan pelaku UMKM lokal. Produk khas seperti amplang, teh herbal, keminting, hingga makanan unik seperti ilat sapi aneka rasa akan dipamerkan dan dijual selama festival berlangsung.

Target nilai transaksi dari festival tahun ini ditingkatkan menjadi Rp12 miliar, melampaui capaian tahun lalu sebesar Rp10 miliar. Pengalaman sebelumnya menunjukkan antusiasme tinggi dari pengunjung, termasuk wisatawan asing yang bahkan langsung memesan produk ke pengrajinnya setelah mencicipi sampel yang dibagikan.

“Makanya tahun ini kami minta pengrajin mencantumkan nomor HP di kemasannya, supaya bisa langsung dihubungi,” jelas Awang.

Ia juga menyampaikan bahwa meskipun terjadi penyesuaian pada honorarium — dari Rp10 juta menjadi Rp8 juta per seniman — pemerintah tetap berkomitmen memberikan dukungan penuh. “Banyak seniman yang bahkan rela tampil tanpa bayaran. Tapi pemerintah harus hadir sebagai pembina dan pemberi apresiasi,” tambahnya.

Seluruh rangkaian acara EBIFF 2025 akan dibuka gratis untuk masyarakat. Tidak ada artis nasional yang diundang karena fokus festival ini adalah pada kekuatan seniman rakyat—baik dari Kalimantan Timur maupun luar negeri.

“Di sinilah keunikan EBIFF. Yang tampil adalah para seniman sejati, yang datang membawa pesan budaya dari tanah asal mereka. Bukan hanya pertunjukan, ini adalah bentuk komunikasi budaya,” ujar Awang.

Lebih dari sekadar tontonan budaya, EBIFF 2025 diharapkan menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian seni tradisional, serta promosi wisata yang berdampak langsung bagi masyarakat Kalimantan Timur.