Skema Nol Persen, Biru Fund Dorong Budidaya Udang Berkelanjutan

METROPOLIS23 Dilihat

Metroikn, Berau – Upaya memperkuat sektor budidaya perikanan sekaligus mendorong praktik berkelanjutan mulai dilakukan di Kalimantan Timur. Program pembiayaan Biru Fund yang dijalankan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) resmi dimulai dengan pengembangan pembibitan udang windu di SMKN 3 Tanjung Batu, Kabupaten Berau.

Program ini menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi petambak, yakni ketergantungan pada pasokan benih dari luar daerah seperti Surabaya dan Tarakan. Kondisi tersebut kerap memicu risiko kematian benih selama pengiriman serta ketidakpastian jumlah yang diterima.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengatakan kehadiran pembibitan lokal diharapkan mampu mengatasi persoalan tersebut sekaligus meningkatkan kualitas produksi.
“Kami ingin masyarakat petambak bisa mendapatkan benih udang windu berkualitas dan mendorong praktik budi daya yang lebih berkelanjutan,” kata Ilman.

Dengan jarak distribusi yang lebih dekat, kualitas benih dinilai lebih terjaga dan penghitungan jumlah menjadi lebih akurat. Hal ini diharapkan dapat menekan risiko kerugian sejak awal siklus budidaya.

Tak hanya soal produksi, Biru Fund juga menawarkan skema pembiayaan yang ringan bagi petambak. Program ini memberikan bunga 0 persen dengan masa tenggang pembayaran hingga 10 bulan. Pengembalian dana dilakukan berdasarkan persentase keuntungan, sehingga menyesuaikan dengan hasil panen.

Di sisi lain, SMKN 3 Tanjung Batu tidak hanya berperan sebagai lokasi pembibitan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran. Guru Agribisnis Perikanan Air Payau dan Laut, Catur Sketsa Suroso, menyebut program ini memberi pengalaman langsung bagi siswa.
“Meski begitu, kami bekerja sama dengan pihak swasta untuk memastikan standar operasional dan modul pembelajaran berjalan optimal,” ungkap Catur.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng PT Tri Karta Pratama sebagai mitra teknis yang berpengalaman dalam produksi benur dan pengelolaan pembibitan. Perusahaan tersebut mendampingi siswa agar proses berjalan sesuai standar industri.

Program ini juga mendapat respons positif dari petambak. Jumardi, petambak dari Kampung Suaran, menilai pembibitan lokal memberikan kepastian usaha. Ia menyebut benih dari luar daerah kerap mengalami penurunan kualitas selama pengiriman, sehingga meningkatkan risiko kerugian.

Biru Fund merupakan bagian dari inisiatif Koralestari yang didukung Global Fund for Coral Reefs (GFCR). Program ini mengusung konsep ekonomi biru, yakni menggabungkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan upaya perlindungan ekosistem pesisir.

Selain pembiayaan, YKAN juga memberikan pendampingan teknis, penguatan kapasitas, serta pengembangan model bisnis berbasis konservasi.

Ilman berharap pendekatan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
“Kami berharap model usaha ini menguntungkan secara ekonomi dan berkontribusi pada perlindungan ekosistem mangrove dan terumbu karang,” kata Ilman.

Dengan integrasi antara pendidikan, pembiayaan, dan praktik budidaya berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi pijakan baru dalam pengembangan ekonomi pesisir yang lebih tangguh di Kalimantan Timur.