Proyek Terowongan Samarinda Masuk Tahap Penataan Lingkungan, Pemerintah Siapkan Beautifikasi dan Pembebasan Rumah

Samarinda13 Dilihat

metroikn, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus melanjutkan pengerjaan proyek Terowongan Selili dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Tak hanya fokus pada aspek teknis seperti penanganan longsor dan peningkatan struktur lereng, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda kini mulai menyiapkan penataan kawasan dan pembebasan rumah warga di sekitar terowongan.

Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti, menjelaskan bahwa saat ini fokus pembangunan bergeser pada penyesuaian posisi inlet dan estetika lingkungan pasca konstruksi.

Ia menyebut, langkah ini menjadi penting untuk memastikan kawasan terowongan tidak hanya aman, tapi juga tertata rapi dan nyaman bagi masyarakat.

“Penanganan lanjutan hanya difokuskan pada penyesuaian posisi inlet dan beautifikasi area yang sebelumnya dipotong-potong akibat pekerjaan konstruksi,” jelas Desy saat mendampingi kunjungan Komisi III DPRD Samarinda, Senin (14/7/2025).

Selain penataan visual, Pemkot Samarinda juga mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp39 miliar dalam APBD-Perubahan 2025 untuk mendukung kelanjutan penanganan teknis di lokasi, sekaligus untuk memperindah kawasan terowongan agar lebih representatif.

“Jadi, nantinya tidak hanya penanganan teknis, tapi juga akan dilakukan penataan visual agar area tersebut lebih rapi,” tuturnya.

Tak kalah penting, lanjut Desy, pihaknya juga tengah menyiapkan proses pembebasan empat rumah warga yang berada tepat di atas sisi terowongan, di kawasan Jalan Sultan Alimuddin. Keempat rumah ini sebelumnya belum termasuk dalam rencana pembebasan, namun perkembangan kondisi tanah pasca longsoran membuat langkah ini perlu dilakukan.

“Awalnya tidak masuk dalam pembebasan lahan. Namun dalam perkembangan terakhir, menunjukkan adanya pergerakan tanah dari rumah-rumah yang sebelumnya sudah dibebaskan,” terangnya.

Desy menambahkan, meski rumah-rumah tersebut saat ini sudah tidak lagi dihuni, pemiliknya belum bersedia bangunan dibongkar karena masih menunggu proses penilaian ganti rugi dari pemerintah.

Sementara itu, dari sisi teknis, pelaksana proyek dari PT Pembangunan Perumahan (PP), Prasetyo Nur, menyatakan bahwa saat ini pekerjaan difokuskan pada perpanjangan struktur sisi inlet dan outlet terowongan sepanjang 72 meter. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat daya dukung lereng yang rawan longsor.

“Namun nanti juga kita akan mengikuti arahan dari pemilik proyek, dalam hal ini PUPR atau Pemerintah Kota Samarinda, apabila dilanjutkan untuk pelandaian lereng agar dicapai tingkat keamanan yang lebih bagus,” ucap Prasetyo.

Ia menambahkan, desain teknis telah mulai dirancang sejak Juni 2025 dan saat ini masih dalam tahap finalisasi sebelum dipaparkan secara resmi ke Pemerintah Kota untuk mendapat persetujuan lebih lanjut.