metroikn, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemrov Kaltim) mulai memperkuat layanan kesehatan di rumah sakit daerah menyusul meningkatnya kebutuhan pelayanan darurat masyarakat.
Fokus utama diarahkan pada RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda yang menjadi rumah sakit rujukan terbesar di provinsi ini.
Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan yakni penempatan dokter spesialis yang berjaga penuh selama 24 jam di instalasi gawat darurat (IGD). Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan cepat tanpa harus menunggu dokter datang dengan sistem panggilan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini belum ideal. Rumah sakit kelas A seperti RSUD AWS seharusnya memiliki lima dokter spesialis yang siaga setiap waktu yakni spesialis anak, penyakit dalam, bedah, kebidanan, dan anestesi.
“Yang standby baru dokter anestesi, lainnya masih sistem on-call. Padahal idealnya semua dokter spesialis harus berjaga langsung di IGD,” jelas Jaya.
Menurutnya, sistem panggilan sering kali menyebabkan keterlambatan dalam penanganan pasien gawat darurat. Karena itu, pemerintah daerah menilai perlu adanya perubahan sistem agar layanan menjadi lebih cepat, tanggap, dan merata.
“Kalau masih on-call, pasien sering menunggu karena dokter tidak selalu ada di tempat. Ini yang akan kita perbaiki supaya tidak muncul kesan lamban,” ujarnya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Pemprov Kaltim telah menyiapkan anggaran sebesar Rp16,8 miliar. Dana itu akan digunakan untuk pengadaan dan insentif bagi para dokter spesialis yang bersiaga penuh di IGD.
“Anggaran ini memang disiapkan agar setiap dokter spesialis bisa berjaga penuh. Mereka akan menerima insentif sekitar Rp25 juta per bulan,” ungkapnya.
Jaya menambahkan, penguatan layanan darurat ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas rumah sakit daerah. Selama ini, sebagian besar beban pasien menumpuk di RSUD AWS karena menjadi pusat rujukan utama, sementara rumah sakit lain masih memiliki kapasitas lebih longgar.
Dengan adanya dokter spesialis yang standby 24 jam, diharapkan pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien dan cepat, sekaligus mengembalikan kepercayaan publik di terhadap layanan kesehatan pemerintah.
“Tujuan akhirnya jelas masyarakat yang datang ke IGD harus merasa aman dan yakin bahwa tenaga medis selalu siap membantu kapan pun dibutuhkan,” tutup Jaya.












