metroikn, SAMARINDA – Setiap akhir pekan, Kampung Ketupat di Kelurahan Masjid, Samarinda Seberang, dipadati 300–400 wisatawan.
Mereka datang tak hanya dari Samarinda, tetapi juga dari Yogyakarta, Berau, Tenggarong, hingga Bogor, untuk menikmati suasana kampung tradisional, kuliner Banjar, hingga belajar menganyam ketupat langsung dari pengrajin lokal.
Ketua Pokdarwis Kampung Ketupat, Abdul Aziz, menyebut keberadaan para pengrajin ketupat yang diwariskan turun-temurun menjadi identitas sekaligus daya tarik utama kawasan ini.
“Kita mengangkat kearifan lokal, karena banyak pengrajin ketupat di sini. Tradisi ini menjadi tematik kampung wisata,” jelasnya, Jumat (05/09/2025).
Pemerintah kota mendukung pengembangan kawasan dengan menyediakan dua unit mobil wisata. Fasilitas ini mengantar pengunjung berkeliling ke titik-titik menarik, mulai dari Masjid Tua Siratul Mustaqim hingga Kampung Tenun.
Selain itu, homestay, gazebo, toilet umum, dan masjid juga tersedia untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Henni, pengunjung asal Samarinda, mengaku terkesan dengan suasana kampung yang bersih dan nyaman.
“Banyak kuliner, gazebo-gazebonya juga bagus dan unik,” ujarnya.
Sementara Arianti dari Loajanan datang khusus untuk mencari cita rasa soto Banjar.
“Saya orang Banjar asli, dan di sini rasanya benar-benar seperti yang saya harapkan,” tuturnya.
Kampung Ketupat sendiri mulai dikembangkan sejak 2017 melalui SK Wali Kota Samarinda. Pembangunan dilakukan pada 2018 dan diresmikan pada Januari 2019.
Sejak saat itu, kawasan yang dulunya dikenal sebagai Mangkupalas resmi menjelma menjadi ikon wisata budaya dan ekonomi kreatif di Samarinda Seberang.
“Pokdarwis berperan dalam penataan dan pengelolaan. Pemerintah juga selalu mendukung selama ada pengajuan yang jelas,” tambah Abdul Aziz.
Kini, Kampung Ketupat bukan sekadar tujuan wisata. Ia adalah bukti bahwa tradisi yang dirawat bisa menjadi sumber penghidupan warga sekaligus memperkaya wajah pariwisata kota.












