metroikn, BALIKPAPAN — PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) terus mempercepat penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe, yang kini telah memasuki tahap akhir pembangunan. Proyek ini menjadi tonggak penting dalam modernisasi kilang Pertamina untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kompleksitas pengolahan minyak nasional.
Fokus utama saat ini adalah pada kesiapan unit Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC) — salah satu fasilitas kunci yang akan memasuki fase commissioning dan start-up sebagai bagian dari pengujian operasional akhir.
Vice President (VP) Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menjelaskan bahwa proyek RDMP Balikpapan dijalankan melalui tiga lingkup besar pekerjaan: Early Works, EPC ISBL–OSBL, dan EPC Lawe-Lawe.
“Seluruh pekerjaan dilaksanakan secara bertahap dan terintegrasi untuk memastikan sinergi antarfase berjalan optimal,” ujar Asep.
Tahap awal proyek, yakni Early Works, mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan seperti persiapan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, serta fasilitas penunjang konstruksi.
“Sebanyak 15 paket pekerjaan telah tuntas. Saat ini tersisa pekerjaan tambahan berupa modifikasi tangki yang berjalan paralel dengan kegiatan utama,” jelasnya.
Pada lingkup utama EPC ISBL–OSBL, pembangunan difokuskan pada 39 unit, terdiri atas 21 unit proses baru, 13 unit utilitas dan fasilitas pendukung, serta 5 unit revamp dari fasilitas eksisting. Mayoritas unit utilitas kini memasuki tahap uji peralatan dan awal pengoperasian.
Sementara itu, di Lawe-Lawe, proyek diperkuat dengan pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel, jaringan pipa transfer line onshore–offshore berdiameter 20 inci, unloading line 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT untuk mendukung rantai pasok energi nasional.
Menurut Asep, kompleksitas proyek menjadi tantangan tersendiri karena seluruh pekerjaan dilakukan di area kilang yang masih beroperasi penuh.
“Tim proyek bekerja dengan presisi tinggi agar proses konstruksi tidak mengganggu keandalan operasi kilang yang berjalan,” katanya.
Selain aspek teknis, keselamatan kerja menjadi prioritas utama. Seluruh aktivitas proyek dilaksanakan sesuai standar Corporate Life Saving Rules (CLSR) dan pedoman keselamatan internasional.
“Kami memastikan setiap tahapan pembangunan dilakukan dengan prinsip safety first, sebagai bagian dari budaya kerja di lingkungan Pertamina,” tegas Asep.
Hingga minggu ketiga Oktober 2025, progres proyek telah mencapai 96,80 persen, dengan sebagian besar pekerjaan fisik rampung dan persiapan menuju commissioning terus dimantapkan.
“Kami sudah berada di tahap penting menuju fase operasi pada akhir 2025. RDMP Balikpapan adalah simbol kemandirian energi Indonesia, hasil karya dan komitmen anak bangsa,” tutup Asep.












