PPU Catat Inflasi 0,14 Persen pada November 2025, BI Soroti Risiko Pasokan Menjelang Nataru

EKOBIS4 Dilihat

metroikn, PENAJAM PASER UTARA — Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi sebesar 0,14 persen pada November 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi tahun kalender atau Januari–November 2025 mencapai 1,66 persen, sementara inflasi tahunan berada di level 2,45 persen.

Angka tersebut lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat 2,72 persen, namun sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata inflasi empat kota di Kalimantan Timur sebesar 2,28 persen. Capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2025, yaitu 2,5 persen ±1 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa tekanan inflasi PPU pada November terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Komoditas yang paling mendorong inflasi adalah tomat, kacang panjang, buncis, sawi hijau, dan emas perhiasan. Penurunan produksi akibat curah hujan tinggi di sentra produksi Sulawesi dan Jawa membuat pasokan hortikultura berkurang,” ujarnya, Rabu (3/12/2025). Robi menambahkan, kenaikan harga emas perhiasan terjadi sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik serta tren kenaikan harga emas global yang masih berlanjut.

Di sisi lain, beberapa komoditas mencatat deflasi dan menahan tekanan harga lebih tinggi. Daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, beras, dan kelapa mengalami penurunan harga pada November. Menurut Robi, koreksi harga tersebut didorong oleh meningkatnya pasokan.

“Distribusi ayam beku dari Jawa meningkat, begitu pula ketersediaan ayam segar dari peternak lokal. Untuk tongkol dan layang, hasil tangkapan nelayan naik sehingga stok lebih dari cukup. Sementara harga beras turun karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi kembali lancar,” terangnya. Ia menambahkan, produksi kelapa lokal yang meningkat juga menekan harga komoditas tersebut.

Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan harga ke depan, terutama memasuki puncak musim hujan. Robi mengatakan intensitas hujan yang tinggi berpotensi mengganggu produksi pertanian serta menyebabkan banjir di beberapa wilayah, termasuk di PPU dan Balikpapan.

“Risiko ini akan menjadi tantangan dalam menjaga kecukupan pasokan, terutama untuk komoditas hortikultura. Pada saat yang sama, permintaan diperkirakan meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru,” ucapnya.

Optimisme konsumen yang menguat juga menjadi faktor pendukung peningkatan permintaan. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Balikpapan pada November 2025, indeks keyakinan konsumen mencapai 123,8, naik dari 119,3 pada Oktober.

“Kenaikan indeks ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin yakin terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun enam bulan ke depan. Optimisme tersebut tercermin dari aktivitas konsumsi yang meningkat,” kata Robi.

Ia menambahkan, aktivitas transaksi digital melalui QRIS juga mengonfirmasi daya beli yang tetap kuat. Pada Oktober 2025, transaksi QRIS di Balikpapan tumbuh 163,31 persen secara tahunan. Sementara di PPU, pertumbuhan mencapai 100,29 persen.

“Pertumbuhan transaksi digital ini menunjukkan konsumsi masyarakat bergerak positif, meskipun tetap perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan agar tidak menimbulkan tekanan inflasi baru,” pungkasnya.

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia Balikpapan menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga kestabilan harga memasuki akhir tahun.