PPU Catat Deflasi 0,78 Persen pada Agustus 2025, Inflasi Tahunan Masih Lebih Tinggi dari Nasional

metroikn, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat deflasi sebesar 0,78 persen (mtm) pada Agustus 2025. Meski harga turun pada periode bulanan, inflasi tahunan IHK PPU justru masih tercatat 2,99 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,31 persen (yoy) maupun gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang berada di angka 1,79 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa deflasi terutama disumbang oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,81 persen (mtm). “Komoditas penyumbang deflasi terbesar adalah tomat, cabai rawit, semangka, sawi hijau, dan kacang panjang. Penurunan harga terjadi seiring masuknya periode panen raya dan melimpahnya stok di tengah permintaan yang relatif stabil,” terangnya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga dan memberi tekanan inflasi. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga tercatat menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen (mtm). Komoditas seperti ikan layang, beras, ikan tongkol, bawang merah, dan ketimun mengalami kenaikan harga. Faktor utama pendorong inflasi antara lain terbatasnya pasokan akibat cuaca kemarau basah di daerah produksi serta gelombang laut tinggi yang membatasi pasokan hasil perikanan.

Ke depan, Robi menyebut potensi tekanan inflasi masih perlu diwaspadai. “Prakiraan hujan di daerah sentra produksi dan gelombang laut tinggi berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan hortikultura dan perikanan di tengah permintaan yang tetap kuat,” ujarnya.

Sementara itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih terjaga. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2025 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Balikpapan berada di level 129,8, meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 134,5.

Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga. Upaya yang dilakukan meliputi pemantauan harga secara berkala, operasi pasar, gelar pangan murah, penguatan kerja sama antar daerah, hingga mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk produksi hortikultura.

“Kami akan terus bersinergi dengan berbagai pihak melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), agar inflasi daerah tetap terkendali sesuai sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen,” tutup Robi.