Meniti Sastra dari Samarinda, Jejak Perjuangan Andria Septy

Samarinda15 Dilihat

metroikn, SAMARINDA – Di balik sunyi ruang menulisnya, Andria Septy membuktikan bahwa tekad bisa mengalahkan keterbatasan.

Penulis muda kelahiran 11 September asal Samarinda ini tumbuh dengan mimpi besar di dunia sastra, meski jalan yang ditempuh penuh rintangan.

Kecintaannya pada menulis tidak datang tiba-tiba, dari kecil ia sudah terbiasa menuliskan cerita, namun dorongan kuat baru muncul ketika berjumpa dengan kisah-kisah fantasi seperti Harry Potter serta novel Supernova karya Dee Lestari.

Saat itu, ia mulai percaya dirinya pun mampu menulis. Tahun 2016 menjadi langkah nyata, Andria menerbitkan novel indie berjudul Calista’s Conflict, kisah remaja dengan latar bulu tangkis. Bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi dirinya karya itu adalah pintu masuk menuju dunia kepenulisan.

Setahun berselang, ia menemukan ruang baru ketika bergabung dengan komunitas Sindikat Lebah Berpikir (SLB). Dari sana ia mulai menekuni puisi, mengenal nama-nama penyair, dan merasakan dunia literasi yang lebih luas. Sejak saat itu, puisinya menembus media nasional seperti Jawa Pos, Tempo, hingga Kompas.id.

Perjalanan tersebut kian terbuka ketika pada 2020 ia ditunjuk sebagai Emerging Writer di Makassar International Writers Festival (MIWF). Pandemi membuatnya harus menunggu hingga 2022 untuk hadir secara langsung. Kesempatan itu memperluas jejaringnya sekaligus meneguhkan posisinya sebagai penulis muda dari Kalimantan.

Rangkaian pencapaiannya berlanjut, puisinya berjudul Lensa Nieuwe Wijk Yogya meraih peringkat kelima dalam Sayembara Puisi Nasional Festival Sastra Yogyakarta 2023.

Setahun kemudian, ia dipercaya mengikuti program residensi seniman di Yogyakarta melalui Joffis (Jogjakarta Fotografis Festival).

Namun, keberhasilan itu bukan tanpa hambatan. Ia bercerita bagaimana dulu harus sembunyi-sembunyi membeli buku karena keluarganya menganggap membaca fiksi sekadar pemborosan, dukungan yang minim justru membuatnya lebih gigih menekuni dunia literasi.

Di sisi lain, ia juga menyadari puisi tidak seramai prosa dalam hal pembaca. Banyak orang menganggap puisi sulit dicerna, bagi Andria justru di situlah tantangannya.

Ia percaya puisi perlu dibaca dengan hati, bukan sekadar dipahami dengan logika. Menulis baginya adalah ruang untuk pulang.

“Setiap kali menulis puisi, saya merasa bisa kembali ke masa lalu, menelusuri memori, bahkan bermain lagi dengan kenangan,” tuturnya.

Kini, selain menulis, ia bekerja sebagai pengajar les privat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Baginya, menulis tidak sekadar profesi yang cepat menghasilkan materi, melainkan jalan panjang yang harus dijalani dengan cinta.

“Menulis itu passion. Bahkan kalau terasa berat, saya tetap menikmatinya,” ujarnya.

Konsistensi yang dijalani sejak 2017 menjadikan Andria Septy salah satu wajah sastra muda dari Samarinda. Salah satu karyanya, Tata Laras Gema Rima, telah terbit dan bisa ditemui di Gramedia.

“Lewat tulisannya, saya membuktikan bahwa kata-kata mampu menjadi ruang bermain sekaligus senjata untuk merekam zaman,” tandasnya.