MetroIkn, Samarinda – Produksi padi di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025, seiring dengan bertambahnya luas panen dan membaiknya capaian produksi di sejumlah sentra pertanian.
Data Survei Kerangka Sampel Area (KSA) mencatat, realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 66,52 ribu hektare. Capaian tersebut meningkat sebesar 3,48 ribu hektare atau sekitar 5,51 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat seluas 63,04 ribu hektare. Peningkatan ini menjadi indikasi adanya penguatan aktivitas budidaya padi di berbagai wilayah Kaltim.
Tren positif juga diproyeksikan berlanjut pada awal 2026. Potensi luas panen padi pada periode Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 25,20 ribu hektare. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 4,98 ribu hektare atau 24,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 20,22 ribu hektare.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa peningkatan luas panen turut berdampak pada kenaikan produksi padi secara keseluruhan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, produksi padi di Kalimantan Timur tercatat mencapai sekitar 270,87 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
“Produksi padi pada 2025 meningkat sekitar 21,23 ribu ton GKG atau 8,50 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 249,64 ribu ton GKG,” ujar Mas’ud Rifai.
Ia mengungkapkan, produksi padi tertinggi sepanjang 2025 terjadi pada bulan September dengan capaian sekitar 67,68 ribu ton GKG. Sementara itu, produksi terendah tercatat pada bulan Januari, yakni sekitar 0,87 ribu ton GKG.
Dari sisi sebaran wilayah, tiga daerah dengan kontribusi produksi padi terbesar pada 2025 berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser, dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Ketiga wilayah tersebut masih menjadi lumbung utama produksi padi di Kaltim.
Sebaliknya, daerah dengan produksi padi terendah tercatat berada di Kota Bontang, Kota Balikpapan, dan Kabupaten Mahakam Ulu, yang secara geografis dan fungsi wilayah memiliki keterbatasan lahan pertanian padi.
Apabila dikonversikan menjadi beras untuk kebutuhan konsumsi penduduk, total produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 setara dengan sekitar 157,55 ribu ton beras. Jumlah tersebut meningkat 12,34 ribu ton atau 8,50 persen dibandingkan produksi beras pada 2024 yang sebesar 145,21 ribu ton.
Produksi beras tertinggi pada 2025 juga terjadi pada bulan September dengan capaian sekitar 39,36 ribu ton, sedangkan produksi terendah tercatat pada bulan Januari, yakni sekitar 0,50 ribu ton beras.
Peningkatan produksi padi dan beras ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menjadi fondasi bagi upaya Kaltim dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional pada tahun-tahun mendatang.









