metroikn, SAMARINDA – Upaya Kalimantan Timur (Kaltim) beralih menuju energi baru terbarukan (EBT) menghadapi tantangan di lapangan. Salah satu sektor yang menjadi fokus adalah pemanfaatan limbah sampah menjadi sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLT Sampah).
Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim, Riawati, mengatakan bahwa pengembangan PLT Sampah di daerah masih terbentur pada jumlah timbulan sampah yang belum memenuhi syarat minimal pemerintah pusat, yakni 1.000 ton per hari.
“Kita masih kurang. Jadi untuk Balikpapan sendiri, timbulan sampahnya baru sekitar 507 ton per hari, Samarinda sedikit lebih tinggi, 605 ton, dan Kutai Kartanegara hanya sekitar 220 ton. Kalau Bontang dan Kutim bisa dibilang belum masuk,” ujar Riawati, Sabtu (18/10/25).
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat daya tarik bagi investor masih terbatas karena skala ekonominya belum efisien.
Riawati menyebut, pernah ada rencana menggabungkan seluruh sampah di Kaltim agar mencapai batas minimal dengan menggandeng calon investor asal Tiongkok. Namun, langkah itu membutuhkan perhitungan ulang karena biaya pengangkutan dan infrastruktur cukup tinggi.
“Kita ini suka tidak suka, memang punya kendala di infrastruktur. Jadi memungkinkan saja asal hitungannya masuk di proses produksi, dan tentu harus dihitung lagi apakah layak secara pasar karena kita hanya bisa menjual ke PLN,” jelasnya.
Selain tantangan kapasitas dan biaya, Riawati menambahkan ada pula kendala dalam aspek regulasi dan pola kerja sama investasi. Banyak investor disebut lebih tertarik menggunakan sistem business-to-business (B2B) dibandingkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) karena dinilai lebih praktis.
“Kenapa investor lebih suka B2B, karena tidak banyak ribet. Kalau KPBU masih ada mekanisme lelangnya dan faktor risikonya juga mungkin lebih tinggi karena ada bagi hasil,” ucapnya.
Meski menghadapi banyak kendala, Pemprov Kaltim tetap berupaya mencari solusi agar rencana PLT Sampah dapat terealisasi. Beberapa langkah strategis yang disiapkan antara lain peningkatan kualitas dan pengelolaan sampah, pemilihan teknologi yang tepat, serta penyusunan skema pembiayaan dan insentif untuk menarik investor.
Selain itu, penyederhanaan regulasi, peningkatan peran masyarakat dalam pemilahan sampah, integrasi dengan program energi di Ibu Kota Nusantara (IKN), dan pengawasan berkelanjutan juga menjadi bagian dari strategi utama.
“Kalau semua pihak bisa bergerak bersama, dari pengelolaan sampah sampai dukungan investasi, saya optimistis PLT Sampah bisa diwujudkan di Kaltim. Tantangannya memang besar, tapi peluangnya juga terbuka,” tutup Riawati.












