Metroikn, Samarinda – Warga Samarinda merasakan teriknya udara beberapa hari terakhir. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini dipicu oleh ekuinoks, saat posisi Matahari tepat berada di atas garis ekuator.
“Fenomena ini terjadi dua kali setahun, Maret dan September, dan membuat intensitas panas meningkat di wilayah Kalimantan,” jelas Fatuh Hidayatullah, prakirawan BMKG Samarinda. Kondisi cerah dan minim awan turut memperkuat efek panas.
Data dari Stasiun Meteorologi APT Pranoto mencatat suhu maksimum mencapai 34 derajat Celsius. BMKG juga memprediksi Kalimantan Timur akan memasuki masa pancaroba pada akhir April hingga Mei, yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
“Pemanasan sejak pagi bisa memicu hujan lebat singkat pada sore atau malam hari, kadang disertai angin kencang,” tambah Fatuh. Ia menekankan, angin kencang tidak selalu berarti puting beliung. Kecepatan angin dikategorikan kencang jika mencapai 25 knot atau sekitar 45 km/jam, sementara puting beliung memiliki pusaran khas.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak dan menjaga kondisi kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. “Cuaca panas dan perubahan mendadak bisa membuat tubuh cepat lelah dan rentan sakit,” pungkasnya.









